Pengaruh Perubahan Guna Lahan dari Pertanian Menjadi Kawasan Perkantoran terhadap Ekonomi Masyarakat Desa Serule Kayu

Penulis

  • Afriza Rizka Praktisi & Alumni Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Institut Teknologi Medan Author
  • Said Muzambiq Author
  • Dessy Eresina Pinem Institut Sains dan Teknologi TD Pardede image/svg+xml Author

Kata Kunci:

perubahan penggunaan lahan, sistem informasi geografis, overlay, desa Serule Kayu

Abstrak

Perkembangan kawasan perkotaan sering mendorong terjadinya perubahan penggunaan lahan, terutama pada wilayah desa yang memiliki posisi strategis dalam sistem perkotaan. Desa Serule Kayu yang merupakan bagian dari Perkotaan Redelong mengalami dinamika pemanfaatan ruang seiring dengan berkembangnya kawasan perkantoran pemerintahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan di Desa Serule Kayu selama periode 2004–2017 dengan menggunakan pendekatan spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Analisis perubahan penggunaan lahan dilakukan melalui teknik overlay peta penggunaan lahan multitemporal, didukung oleh analisis kuantitatif luasan serta analisis deskriptif pola spasial perubahan. Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran komposisi penggunaan lahan dari lahan pertanian menuju lahan terbangun. Lahan sawah mengalami penurunan luasan yang cukup signifikan, sedangkan lahan terbangun, khususnya kawasan perkantoran dan permukiman, mengalami peningkatan. Munculnya penggunaan lahan perkantoran menjadi perubahan paling menonjol yang menunjukkan terjadinya perubahan struktur dan fungsi ruang Desa Serule Kayu. Sementara itu, lahan hortikultura relatif stabil, yang mengindikasikan adanya proses konversi lahan yang selektif. Luas total wilayah desa tetap sama selama periode penelitian, sehingga perubahan yang terjadi merupakan perubahan fungsi penggunaan lahan di dalam wilayah administrasi desa. Temuan ini memberikan informasi spasial yang penting untuk memahami dinamika pemanfaatan ruang pada wilayah desa yang berkembang menjadi bagian dari kawasan perkotaan.

Biografi Penulis

  • Said Muzambiq

    Praktisi Perencanaan Wilayah dan Kota

  • Dessy Eresina Pinem, Institut Sains dan Teknologi TD Pardede

    Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota

Referensi

[1] R. W. Kates, W. C. Clark, R. Corell, J. M. Hall, C. C. Jaeger, I. Lowe, J. J. McCarthy, H. J. Schellnhuber, B. Bolin, N. M. Dickson, S. Faucheux, G. C. Gallopin, A. Grübler, B. Huntley, J. Jäger, N. S. Jodha, R. E. Kasperson, A. Mabogunje, P. Matson, H. Mooney, B. Moore III, T. O’Riordan, and U. Svedin, “Sustainability science,” Science, vol. 292, no. 5517, pp. 641–642, 2001.

[2] S. Arsyad, Perubahan Lahan Pertanian di Kabupaten Takalar Tahun 1996 dan 2010 Menggunakan Citra Landsat 5 TM. Makassar: Universitas Hasanuddin, 2012.

[3] I. Pewista dan R. Harini, “Faktor dan pengaruh alih fungsi lahan pertanian terhadap kondisi sosial ekonomi penduduk,” Universitas Gadjah Mada, 2011.

[4] BAPPEDA Kabupaten Bener Meriah, Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bener Meriah 2012–2032. Bener Meriah, 2014.

[5] B. L. Turner II, E. F. Lambin, and A. Reenberg, “The emergence of land change science for global environmental change and sustainability,” Proceedings of the National Academy of Sciences, vol. 104, no. 52, pp. 20666–20671, 2007.

[6] E. F. Lambin and P. Meyfroidt, “Global land use change, economic globalization, and the looming land scarcity,” Proceedings of the National Academy of Sciences, vol. 108, no. 9, pp. 3465–3472, 2011.

[7] Mubyarto, Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta: LP3ES, 1985.

[8] R. Tarigan, Perencanaan Pembangunan Wilayah. Medan: Bumi Aksara, 2005.

[9] P. H. Verburg, K. Neumann, and L. Nol, “Challenges in using land use and land cover data for global change studies,” Global Change Biology, vol. 17, no. 2, pp. 974–989, 2011.

[10] B. Soepijanto, “Menata kawasan hutan dan mempertahankan lahan pertanian,” Buletin Tata Ruang, BPN, 2012.

[11] Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

[12] BAPPEDA Kabupaten Bener Meriah, Rencana Detail Tata Ruang Perkotaan Redelong. Bener Meriah, 2014.

[13] United Nations, World Urbanization Prospects: The 2018 Revision. New York, NY, USA: United Nations, 2018.

[14] Food and Agriculture Organization of the United Nations, Land Use Planning for Sustainable Development. Rome, Italy: FAO, 2013.

[15] P. A. Burrough, R. A. McDonnell, and C. D. Lloyd, Principles of Geographical Information Systems, 3rd ed. Oxford, UK: Oxford University Press, 2015.

[16] M. F. Goodchild, “Geographical information systems and science: Today and tomorrow,” Annals of GIS, vol. 16, no. 1, pp. 3–9, 2010.

[17] S. Effendi dan Tukiran, Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3ES, 2012.

[18] Sugiharto, Pembangunan dan Pengembangan Wilayah. Medan: USU Press, 2006.

[19] M. F. Goodchild, D. J. Maguire, and D. W. Rhind, Geographic Information Systems and Science, 4th ed. Hoboken, NJ, USA: Wiley, 2015.

[20] J. R. Jensen, Introductory Digital Image Processing: A Remote Sensing Perspective, 4th ed. Upper Saddle River, NJ, USA: Pearson, 2016.

[21] B. Setiawan dan D. R. Muta’ali, Penataan Ruang Wilayah dan Kota. Yogyakarta, Indonesia: Gadjah Mada University Press, 2012.

[22] R. Rustiadi, S. Saefulhakim, dan D. R. Panuju, Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Jakarta, Indonesia: Crestpent Press, 2018.

[23] Badan Informasi Geospasial, Pedoman Teknis Pengolahan Data Spasial. Bogor, Indonesia: BIG, 2017.

[24] ESRI, ArcGIS Desktop: Release 10.x. Redlands, CA, USA: Environmental Systems Research Institute, 2017.

[25] E. F. Lambin, B. L. Turner II, H. J. Geist, S. B. Agbola, A. Angelsen, J. W. Bruce, O. T. Coomes, R. Dirzo, G. Fischer, C. Folke, P. S. George, K. Homewood, J. Imbernon, R. Leemans, X. Li, E. F. Moran, M. Mortimore, P. S. Ramakrishnan, J. F. Richards, H. Skanes, W. Steffen, G. D. Stone, U. Svedin, T. A. Veldkamp, C. Vogel, and J. Xu, “The causes of land-use and land-cover change: Moving beyond the myths,” Global Environmental Change, vol. 11, no. 4, pp. 261–269, 2001.

[26] P. H. Verburg, J. van de Steeg, A. Veldkamp, and L. Willemen, “From land cover change to land function dynamics: A major challenge to improve land characterization,” Journal of Environmental Management, vol. 90, no. 3, pp. 1327–1335, 2009.

[27] Badan Pusat Statistik Kabupaten Bener Meriah, Kecamatan Bukit dalam Angka 2015. Bener Meriah: BPS, 2015.

[28] X. Liu, Y. Li, X. Liu, and J. Chen, “Spatial patterns and driving forces of land-use change in urban–rural fringe areas,” Habitat International, vol. 44, pp. 266–274, 2014.

[29] A. F. Mather and K. Needle, “The forest transition: A theoretical basis,” Area, vol. 30, no. 2, pp. 117–124, 1998.

[30] B. Setiawan, “Dinamika perubahan penggunaan lahan pada wilayah peri-urban,” Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, vol. 24, no. 2, pp. 83–98, 2013.

[31] Badan Pusat Statistik Kabupaten Bener Meriah, Kecamatan Bukit dalam Angka 2017. Bener Meriah, Indonesia: BPS, 2017.

Unduhan

Terbitan

Bagian

Articles

Cara Mengutip

[1]
A. Rizka, S. Muzambiq, dan D. E. Pinem, “Pengaruh Perubahan Guna Lahan dari Pertanian Menjadi Kawasan Perkantoran terhadap Ekonomi Masyarakat Desa Serule Kayu”, JPIT, vol. 1, no. 1, hlm. 43–53, Des 2025, Diakses: 10 Juni 2026. [Daring]. Tersedia pada: https://skadipress.com/index.php/JPIT/article/view/8